IHSG

IHSG Menguat Pengusaha Harap Insentif Usaha Diperluas Tahun 2026

IHSG Menguat Pengusaha Harap Insentif Usaha Diperluas Tahun 2026
IHSG Menguat Pengusaha Harap Insentif Usaha Diperluas Tahun 2026

JAKARTA - Penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada awal 2026 menjadi sinyal positif bagi kepercayaan investor terhadap perekonomian nasional. 

Namun, di balik optimisme pasar modal tersebut, muncul harapan agar kenaikan indeks tidak hanya berhenti sebagai angka statistik, melainkan mampu memberikan efek nyata bagi perekonomian riil, terutama bagi pelaku usaha menengah dan UMKM di berbagai daerah.

Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) menilai bahwa momentum penguatan IHSG perlu segera ditindaklanjuti dengan kebijakan konkret yang bersifat inklusif.

Tanpa langkah lanjutan, penguatan pasar modal dikhawatirkan hanya akan dinikmati oleh segelintir kelompok dan belum sepenuhnya dirasakan oleh pengusaha di sektor produktif.

Ketua Badan Pengurus Pusat Hipmi Bidang Sinergitas Danantara, BUMN, dan BUMD, Anthony Leong, menegaskan bahwa pemerintah perlu memastikan agar kebijakan ekonomi yang diterapkan mampu menjembatani pertumbuhan pasar modal dengan penguatan sektor riil.

Fokus utama, menurut dia, harus diarahkan pada pengusaha menengah dan UMKM yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi nasional.

“Pasar modal yang menguat harus diterjemahkan menjadi penguatan ekonomi riil. Di sinilah peran pengusaha kelas menengah dan UMKM menjadi sangat penting,” ujar Anthony.

Kebijakan Inklusif Jadi Kunci Pemerataan Manfaat

Anthony menyampaikan bahwa penguatan IHSG seharusnya diiringi dengan kebijakan inklusif, seperti perluasan akses pembiayaan dengan bunga terjangkau, pemberian insentif usaha yang tepat sasaran, serta penyederhanaan regulasi. 

Langkah-langkah tersebut dinilai penting agar pengusaha menengah dan UMKM dapat tumbuh secara berkelanjutan dan tidak tertinggal dalam dinamika ekonomi nasional.

Menurutnya, selama ini kebijakan pemerintah kerap terpolarisasi pada dua kutub ekstrem, yakni UMKM mikro di satu sisi dan korporasi besar di sisi lain. Akibatnya, pengusaha menengah sering kali berada di wilayah “abu-abu” dan belum mendapatkan perhatian yang memadai dari pembuat kebijakan.

“Ia menyatakan Hipmi siap menjadi mitra strategis pemerintah dalam memastikan agar pertumbuhan ekonomi bersifat inklusif dan tidak hanya dinikmati oleh kelompok tertentu,” demikian pernyataan Anthony dalam kesempatan tersebut.

Peran Strategis Pengusaha Menengah

Anthony menekankan bahwa pengusaha menengah memiliki posisi strategis dalam struktur ekonomi Indonesia. Kelompok ini tidak hanya memiliki skala usaha yang signifikan, tetapi juga menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar dan terhubung langsung dengan rantai pasok nasional.

“Pengusaha menengah ini sering berada di wilayah ‘abu-abu’. Tidak lagi kecil, tapi belum besar. Padahal mereka adalah tulang punggung ekonomi, pencipta lapangan kerja, dan jembatan penting bagi UMKM untuk naik kelas,” ucap dia.

Dengan posisi tersebut, pengusaha menengah dinilai mampu menjadi motor penggerak ekonomi jika didukung oleh kebijakan yang tepat. 

Anthony menilai, tanpa keberpihakan kebijakan yang jelas, potensi kelompok ini tidak akan berkembang secara optimal dan justru berisiko stagnan di tengah tekanan biaya produksi dan persaingan global.

Optimisme Pasar Perlu Diterjemahkan ke Dunia Usaha

Lebih lanjut, Anthony melihat penguatan IHSG di awal 2026 sebagai cerminan optimisme pasar terhadap fundamental ekonomi Indonesia. 

Ia menilai arah kebijakan pemerintah yang semakin fokus pada stabilitas serta pertumbuhan jangka menengah dan panjang telah membangun kepercayaan investor, baik domestik maupun asing.

Meski demikian, Anthony mengingatkan bahwa pasar modal yang menguat tidak boleh berhenti sebagai indikator kepercayaan investor besar semata. 

Menurutnya, indikator tersebut harus diterjemahkan menjadi kebijakan yang mampu mendorong aktivitas produksi, investasi sektor riil, dan penciptaan lapangan kerja.

“Pasar modal yang kuat harus menjadi pemicu keberanian pelaku usaha untuk berekspansi, bukan sekadar angka yang menggembirakan di layar perdagangan,” kata dia.

Apresiasi terhadap Kebijakan Fiskal Pemerintah

Dalam kesempatan yang sama, Anthony menyampaikan apresiasi kepada Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa atas komitmen pemerintah dalam menjaga stabilitas fiskal. Ia menilai kebijakan fiskal yang terukur dan arah ekonomi yang jelas menjadi fondasi penting bagi dunia usaha.

Menurut Anthony, stabilitas fiskal memberikan kepastian bagi pelaku usaha untuk menyusun rencana jangka panjang, meningkatkan kapasitas produksi, serta memperkuat daya saing di pasar domestik maupun global.

“Ini fondasi penting agar pengusaha, terutama di sektor menengah dan UMKM, berani berinvestasi dan melakukan ekspansi,” sebut Anthony.

Kinerja IHSG Awal 2026

Sebagai catatan, IHSG  ditutup menguat seiring optimisme pelaku pasar di awal 2026. IHSG ditutup naik 101,19 poin atau 1,17 persen ke posisi 8.748,13. Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 juga mengalami penguatan sebesar 5,42 poin atau 0,64 persen ke posisi 852,00.

Penguatan tersebut menjadi salah satu capaian awal yang menggambarkan sentimen positif pasar terhadap prospek ekonomi Indonesia. 

Namun, sebagaimana disampaikan Hipmi, tantangan berikutnya adalah memastikan agar momentum ini mampu mengalir hingga ke sektor riil dan dirasakan secara merata oleh pelaku usaha di berbagai lapisan.

Hipmi berharap pemerintah dapat memanfaatkan momentum penguatan IHSG dengan merumuskan kebijakan yang lebih berpihak pada pengusaha menengah dan UMKM. 

Dengan sinergi antara pasar modal yang kuat dan kebijakan ekonomi yang inklusif, pertumbuhan ekonomi nasional diharapkan tidak hanya berkelanjutan, tetapi juga merata dan berkeadilan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index